Story

Berawal dari Pemecatan Joseph Cyril Bamford Mengembangkan JCB Menjadi Produsen Alat Berat Kelas Dunia

Keberhasilan tidak pernah diraih dengan mudah, bagi orang yang menjalaninya jatuh bangun adalah hal yang biasa. Perjalanan hidup seorang Joseph Cyril Bamford pun tidak terlepas dari berbagai kesulitan sebelum akhirnya mendirikan dan membesarkan JCB, sebuah perusahaan alat berat kelas dunia asal Inggris.

Kisah sukses JCB menjadi sebuah perusahaan alat berat yang disegani pada saat ini tidak bisa dilepaskan dari latar belakangnya ketika Henry Bamford yang merupakan kakek Joseph Cyril Bamford (selanjutnya disebut JC Bamford) mulai mengembangkan usahanya sebagai pandai besi di sebuah kota kecil, Uttoxeter, yang terletak di Inggris bagian tengah, pada akhir 1830-an.

Pada tahun 1871 Henry membantu putranya, Samuel, mendirikan Leighton Ironworks Company di kota yang sama, yang kelak menjadi Henry Bamford and Sons, yang berfokus membuat mesin pertanian. Selama bertahun-tahun mereka berspesialisasi dalam mesin-mesin pertanian seperti penghancur lobak untuk membuat pakan ternak, atau penyebar kotoran dan barang-barang kebutuhan sehari-hari lainnya dari kebutuhan pertanian.

Lambat laun Samuel mulai melibatkan putranya, JC Bamford (1916 – 2001) dalam bisnis keluarga. JC Bamford muda yang memiliki berbagai ide-ide brilian segera melihat banyak yang harus diubah pada bisnis keluarganya. Dunia telah mengalami perubahan, pun di dunia pertanian, hal ini yang mendorongnya untuk melakukan berbagai perubahan. Sayangnya idenya dianggap terlalu radikal dan ini membuatnya disingkirkan oleh saudara ayahnya dengan diam-diam disuruh pergi ke tempat lain.

Dipecat pada tahun 1945, JC Bamford justru melihat hal ini sebagai kesempatan untuk mengembangkan ide-ide kreatif dan visi yang dimilikinya. Inggris pada saat itu baru saja lepas dari dari Perang Dunia II dan sedang giat-giatnya membangun untuk bangkit dari keterpurukannya. Sebagai negara yang baru saja keluar dari perang selama enam tahun, para petani berada di bawah tekanan untuk meningkatkan hasil panen guna memberi makan penduduknya. Mekanisasi pertanian dianggap sebagai jalan keluarnya, namun industri-industri di Inggris kala itu terkendala dengan kurangnya bahan baku baja serta membangun kembali pabrik-pabrik agar siap berproduksi seperti pada masa sebelum perang. Peluang inilah yang dilihat oleh JC Bamford untuk mewujudkan impiannya membangun sebuah perusahaan yang memproduksi alat-alat pertanian yang sangat dibutuhkan pada saat itu.

BACA JUGA  Ural, Truk Tangguh Untuk Segala Medan

Sebagai langkah awal, ia menyewa sebuah garasi di sebuah pasar di kota Uttoxeter. Dengan dibantu oleh dua karyawan yang berdedikasi dan satu set alat las bekas, ia mengubah sebuah truk tentara bekas menjadi traktor pertanian bertenaga mesin bensin untuk menjadi kendaraan tumpangan para petani. Setelah keberhasilan kecil pertamanya ini, JC Bamford terus melakukan inovasi-inovasi pada mesin pertanian yang dibuatnya. Salah satu inovasi yang dilakukannya adalah membuat trailer yang bisa digerakkan secara hidraulik. Produk ini segera mendapat sambutan luas di masyarakat kota Uttoxeter.

Sedari awal, JC Bamford memiliki visi membangun perusahaan yang jauh di depan para pesaingnya dan menjadi yang terbaik. Pada tahun 1949 JC Bamford merancang dan membangun Major Loader, sebuah traktor angkat yang berbasis pada traktor Fordson. Produk ini menggunakan 2 lengan hidraulik untuk menggerakkan bucket, fork, blade, dan attachment lainnya, yang bisa diganti sesuai kebutuhan, menjadikannya ideal untuk pekerjaan pertanian dan konstruksi.

Empat tahun kemudian lahirlah inovasi JC Bamford yang paling fenomenal, sebuah alat berat yang mengubah dunia. Dalam perjalanan bisnisnya ke Norwegia, JC Bamford melihat sebuah alat penggali kecil yang dipasang di sebuah trailer yang ditarik sebuah traktor. Ini memberinya ide untuk memasang alat penggali bertenaga hidraulik di bagian belakang sebuah traktor, sehingga mampu bergerak secara melingkar.

Fitur inilah yang kemudian ditambahkan pada Major Loader yang sudah diproduksinya, inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya backhoe loader yang mendapat sukses di pasaran. Tahun demi tahun backhoe loader ini terus disempurnakan hingga mencapai bentuknya pada saat ini.

Kesuksesan yang diraih ini tidak terlepas dari intuisi JC Bamford sebagai seorang marketer. Sejak tahun 1951 ia memberiukan sentuhan identitas warna kuning khas JCB dan logo yang dikenal saat ini pada semua alat-alat berat yang diproduksinya. Hal ini dibarengi dengan komitmennya untuk menjaga image produk-produknya melalui after sales support yang baik. Setiap hari pada saat meeting dengan karyawan-karyawannya ia selalu menanyakan kondisi ‘si kuning’, begitu ia menamai produk-produk JCB dan apakah ada yang mengalami kerusakan. Ia selalu mendorong karyawan-karyawannya untuk mengambil tindakan cepat untuk setiap unit JCB yang mengalami masalah.

BACA JUGA  INTERMAT Innovation Award, Ajang Bergengsi Penghargaan Alat Berat Paling Inovatif

Dengan komitmennya yang kuat terhadap kualitas, tidak heran produk-produk alat berat JCB makin tersebar ke seluruh dunia, termasuk di India dan Irlandia. Sangking populernya JCB di Inggris, India dan Irlandia, penyebutan alat berat di negara-negara ini sering menggunakan kata ‘JCB’, mirip seperti penyebutan pasta gigi yang sering disebut dengan odol di Indonesia. Kata ‘JCB’ pun muncul di kamus Oxford English Dictionary. Di India, JCB mendominasi alat-alat berat di India, dari setiap 4 alat berat, 3 adalah alat berat JCB. Sampai dengan saat ini di setiap sudut di India, kita bisa dengan mudah menemukan alat berat JCB beroperasi.

Dengan kesuksesan produk-produk JCB di seluruh dunia, JC Bamford tetap menjadi pribadi yang tahu bersyukur. Ia memegang teguh komitmennya untuk tidak mengambil alih bisnis-bisnis dari kompetitor-kompetitornya. Ia berfilosofi “Focus on what you do best, be innovative, and re-invest in product development and the latest manufacturing technologies” menjadikan JCB menjadi produsen alat berat yang disegani di dunia.

Pada tahun 1978, ia membuat sebuah keputusan yang menjadikan JCB menjadi produsen alat berat global dengan menyuntikkan dana setara dengan laba perusahaan selama dua tahun sebelum pajak. Sejak itulah bisnis JCB semakin menggurita. Saat ini JCB memiliki 18 pabrik yang tersebar di negara-negara Inggris, Jerman, Amerika Utara dan Selatan, Australia, India, China, dan negara-negara pecahan Uni Soviet (CIS). Saat ini JCB mempekerjakan lebih dari 12 ribu karyawan yang tersebar di 4 benua dan produk-produknya tersebar di lebih dari 150 negara, lebih dari 1500 dealer dan 300 lebih varian produk.

Inovasi-inovasi terus dilakukan JCB hingga saat ini. Pada tahun 1980, menjadi tahun kelahiran model backhoe legendarisnya, 3CX, yang menjadi role model backhoe loader yang ditiru kompetitor-kompetitornya hingga saat ini. Pada tahun 1991, JCB meluncurkan Fastrac, varian traktor pertanian yang dikenal ketangguhannya. JCB Fastrac Two, salah satu varian Fastrac tercatat di Guinness World Record pada tahun 2019 sebagai traktor tercepat di dunia yang mampu mencapai kecepatan 247.470 km/jam !!!

BACA JUGA  JCB Merayakan Produksi Backhoe Loader yang ke-750.000

Inovasi lain adalah di engine,  yang muncul ketika JCB dihadapkan dengan kesulitan pasokan engine dari vendor utamanya Fordson. Hal ini terjadi pada saat industri manufaktur Inggris kerap dilanda pemogokan karyawan. Alih-alih menggantungkan pada suplai engine yang tidak pasti, JCB memutuskan untuk memproduksi engine sendiri. Hasilnya adalah Dieselmax, engine diesel empat silinder yang dikenal efisien dan ramah lingkungan. Engine inilah yang digunakan pada Fastrac Two saat memecahkan rekor dunia traktor tercepat.

Atas dedikasinya, JC Bamford mendapat berbagai penghargaan bergengsi baik di Inggris sendiri maupun secara internasional. Salah satunya pada tahun 1993, JC Bamford menjadi warganegara Inggris pertama yang mendapatkan penghargaan dari Association of Equipment Manufacturers (AEM), sebuah asosiasi di Amerika Utara yang kerap memberikan penghargaan pada individu-individu yang dianggap pionir dalam menciptakan, mengelola, membangun dan memimpin sebuah industri alat berat. JC Bamford juga mendapat gelar Doctor of Technology dari Loughborough University pada tahun 1989 dan Keele University pada tahun 2000.

JC Bamford tutup usia di sebuah klinik di London pada 1 Maret 2001 dengan meninggalkan ‘legacy’ pada industri alat berat dunia hingga saat ini.

(HP)

Tinggalkan Balasan