Technology

Bosch Mengembangkan Alat Tes Covid-19, Hasil Bisa Diketahui Dalam 2,5 Jam

Raksasa teknologi otomotif dan alat berat asal Jerman, Bosch, berhasil mengembangkan alat tes virus Corona yang mampu memberikan hasil dalam waktu 2,5 jam sejak sampel diambil sampai dengan diperoleh hasilnya dengan tingkat keakuratan 95%.

Alat tes ini menggunakan metode diagnosa molekular Vivalytic yang dikembangkan oleh Bosch Health Solutions yang berkolaborasi dengan Randox Laboratories Ltd, sebuah perusahaan teknologi kedokteran asal Irlandia Utara.

Alat tes ini telah memenuhi standar World Health Organization (WHO). Dikembangkan hanya dalam waktu 6 minggu, alat tes ini diharapkan dapat memangkas waktu pengecekan pasien yang terindikasi terinfeksi Covid-19 yang selama ini membutuhkan waktu 2×24 jam. Dengan makin merebaknya wabah Covid-19 membuat semua negara di dunia kewalahan mengimbangi kecepatan penyebaran pandemi ini, sehingga sering terjadi seorang pasien divonis mengidap Corona setelah kondisinya semakin buruk bahkan setelah meninggal dunia.

Seperti kita ketahui, dengan alat tes virus Corona yang selama ini digunakan semua negara di dunia termasuk Indonesia tidak dapat mengimbangi kecepatan penyebaran Covid-19 yang bukan lagi berdasar deret hitung atau deret ukur, melainkan deret eksponensial. Semakin cepat mendeteksi orang-orang yang positif mengidap Covid-19 maka semakin besar kemungkinan orang tersebut terselamatkan nyawanya dengan penanganan yang tepat.

Dr. Volkmar Denner, Chairman Robert Bosch GmbH. menyatakan, “Kami ingin alat tes Covid-19 yang dikembangkan Bosch dapat memainkan peranan penting dalam menanggulangi pandemi Covid-19 secepat mungkin. Hal ini akan mempercepat proses identifikasi dan isolasi pasien-pasien terinfeksi. Semakin cepat teridentifikasi, semakin lambat penyebarannya.”

Selain kelebihan dalam kecepatan dan keakuratannya, alat tes Covid-19 Bosch ini memiliki keunggulan karena dapat dilakukan ‘on-site’ dibandingkan alat tes yang ada saat ini yang membutuhkan sampel cairan swab untuk dikirimkan ke sebuah laboratorium yang memiliki kemampuan untuk melakukan analisa. Di Indonesia, sampel yang diambil dari orang-orang yang terindikasi mengidap Covid-19 harus dikirimkan ke Jakarta atau beberapa kota besar yang memiliki fasilitas laboratorium mumpuni.

BACA JUGA  Mercedes-Benz Indonesia & Daimler Commercial Vehicles Manufacturing Indonesia Berikan Bantuan APD kepada RSUD Cibinong

Dengan bisa dilakukan di tempat akan mengurangi waktu dan biaya yang dibutuhkan secara signifikan. Pasien akan cepat mendapatkan kepastian, sementara bagi tim medis bisa menentukan segera langkah-langkah yang harus diambil. “Waktu adalah faktor terpenting dalam menghadapi virus Corona. Alat tes kami memiliki kehandalan, kecepatan, tanpa membutuhkan sampel untuk bolak-balik,” jelas CEO Bosch, Volkmar Denner.

Sample diambil dari cairan hidung atau tenggorokan pasien menggunakan sebuah swab, lantas cairan sampel itu dimasukkan ke dalam sebuah cartridge yang berisi semua regent yang dibutuhkan untuk pengujian untuk kemudian dimasukkan ke perangkat Vivalytic untuk dianalisa. Selama menunggu hasil, tenaga medis bisa melakukan tugas-tugas lain, misalnya merawat pasien. Perangkat vivalytic dapat melakukan 10 tes dalam waktu 24 jam, yang berarti dengan 100 perangkat bisa mengecek 1000 pasien per hari. Untuk pengoperasiannya juga cukup mudah, bahkan seorang tenaga medis yang belum ditraining untuk menggunakan alat ini dapat menjalankan tes.

Bosch Vivalytic Analyzer

Alat tes Covid-19 Bosch ini merupakan salah satu alat diagnosa molekular otomatis pertama di dunia yang bisa dimanfaatkan secara mudah oleh institusi-institusi medis. Yang menarik, alat ini tidak hanya bisa digunakan untuk mengetes Covid-19, melainkan bisa juga digunakan untuk mengetes 9 penyakit pernafasan lainnya, termasuk influenza A dan B, secara simultan.

Alat tes Covid-19 ini akan mulai tersedia di Jerman pada bulan April 2020 dan mulai dipasarkan ke seluruh dunia setelah itu.

(FIP)

Tinggalkan Balasan