Event

Kementerian PUPR Dorong Keterlibatan Stakeholders Rantai Pasok Konstruksi Untuk Dukung Percepatan Pembangunan Infrastruktur

Tantangan Pembangunan Infrastruktur di masa mendatang semakin meningkat. Bila kita simak APBN 2020, anggaran infrastruktur direncanakan mengalami peningkatan menjadi Rp. 419,2 triliun  atau meningkat 4,9% dari tahun sebelumnya. Ditambah lagi dengan adanya rencana pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) yang memerlukan total pembiayaan fisik mencapai Rp. 466 triliun.

Hal ini menunjukkan tingginya target dan capaian pembangunan infrastruktur pada tahun 2020-2024. Untuk dapat mendukung target tersebut, kesiapan rantai pasok industri konstruksi sangat diperlukan. “Karenanya kita butuh strategi peningkatan kinerja rantai pasok industri konstruksi yang tidak hanya efektif, efisien, tapi juga dinamis”, demikian disampaikan Dirjen Bina Konstruksi Kementerian PUPR Syarif Burhanuddin saat menjadi narasumber pada acara Industry Briefing (Launching Konstruksi Indonesia 2019) dengan tema “Rantai Pasok Konstruksi 4.0 dalam Mendukung Percepatan Pembangunan Infrastruktur”, Selasa (10/09) di Jakarta.

Lebih lanjut disampaikan bahwa sampai saat ini masih terdapat permasalahan pengelolaan rantai pasok konstruksi seperti belum adanya informasi kebutuhan material dan peralatan konstruksi yang akurat dan komprehensif, masih terjadi kelangkaan dan kemahalan material dan peralatan konstruksi, masih tingginya ketergantungan impor, sistem pendukung logistik yang belum merata, dan belum adanya regulasi yang khusus mengatur rantai pasok material dan peralatan konstruksi.

Untuk itulah Pemerintah mendorong berbagai upaya untuk mendukung pembinaan rantai pasok konstruksi sekaligus memberi solusi terhadap berbagai kendala yang ada.

“Untuk mendukung rantai pasok, dibutuhkan Teknologi dan Informasi (Industri 4.0) terkait material dan peralatan konstruksi. Hal ini sebagaimana arahan Menteri PUPR bahwa revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan perkembangan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi harus dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mendukung percepatan pembangunan infrastruktur”, ungkap Syarif. Menurut Dirjen Bina Konstruksi dampak digitalisasi pada rantai pasok konstruksi memberikan keuntungan seperti  menurunkan biaya logistik, meningkatnya investasi industri material dan peralatan konstruksi, harga produk lebih kompetitif, dan lain sebagainya.

BACA JUGA  Manitowoc Menunjuk Multicrane Perkasa Sebagai Distributor Tower Crane Potain

“Melalui Konstruksi Indonesia 2019, diharapkan adanya pembenahan rantai pasok konstruksi nasional dengan dukungan Industri 4.0 (Teknologi Informasi)” tutur Syarif Burhanuddin. Selain Dirjen Bina Konstruksi, acara ini menampilkan beberapa narasumber yang kompeten di bidangnya antara lain : Direktur Kerjasama pemerintah swasta dan rancang bangun Kementerian Bappenas/PPN Sri Bagus Guritno, Ketua Umum KADIN Rosan Perkasa Roeslani yang diwakili oleh Dandung Sri Harminto, Ketua Umum LPJK Ruslan Rivai, serta Ketua Umum GPCI dan Direktur Tarsus Indonesia Hendrata Atmoko & Tri Turturi.

“Ajang ini diharapkan dapat memberikan gambaran lengkap terkait tren serta peluang terbaru yang ada di industri konstruksi Indonesia. Melalui wadah yang akan mempertemukan langsung para profesional lokal dan internasional ini, Konstruksi Indonesia 2019 diharapkan mampu menghadirkan solusi serta inovasi-inovasi terbaru dari industri konstruksi yang dapat memberikan kontribusi langsung dalam mempercepat pembangunan infrastruktur,” ujar Tri Turturi selaku Managing Director Tarsus Indonesia, sebagai pihak event organizer. Konstruksi Indonesia 2019 diselenggarakan bersamaan dengan ISCOP, Indonesia Infrastructure Week dan Intertraffic Indonesia.

Untuk informasi lebih lanjut kunjungi www.constructionindonesia.com.

Facebook: Ditjen Bina Konstruksi
Twitter: @DJBK_PUPR
Instagram: ditjenbinakonstruksi
Youtube: Ditjen Bina Konstruksi

(ES)

Baca Juga

BACA JUGA  Ultratrex Amphibious Excavator, Untuk Berbagai Pekerjaan di Area Genangan Air

Tinggalkan Balasan