Story

Mengenal Sejarah Crane, Alat Berat Pertama di Muka Bumi

Sejarah mencatat crane pertama kali digunakan oleh manusia pada zaman Yunani kuno, sekitar tahun 515 SM.Berdasarkan penemuan-penemuan arkeologi, yang diantaranya Kuil Hera di Pulau Sicilia, ditemukan batu-batu berukuran besar yang merupakan penyusun bangunan kuil ini yang memiliki coakan khas. Batu-batu dengan coakan ini ditemukan pada batu-batu penyusun dinding yang berada di ketinggian, sehingga menimbulkan pertanyaan di pikiran para ahli arkeologi apa fungsi dari coakan-coakan itu.

Dari kebingungan itu muncullah hipotesa bahwa coakan itu berfungsi sebagai tempat sangkutan tali yang digunakan untuk mengangkat batu-batu tersebut. Dengan hipotesa ini tentunya diperlukan sebuah alat mekanikal yang mampu mengangkat beban berat dengan menggunakan tenaga manusia.

Pada awalnya, tali pengangkat hanya disampirkan pada sebuah kayu bulat, namun dengan struktur ini tali pengangkat rawan untuk terpeleset yang sangat berbahaya bagi orang-orang di sekitarnya, disamping tali pun rawan putus.

Sekitar 400-an tahun SM, Aristoteles seorang ilmuwan Yunani kuno mengaplikasikan winch dan pulley pada crane, sehingga crane kuno lebih efisien dalam mengangkat beban berat. Para ahli sejarah meyakini winch ditemukan oleh bangsa Assyria sekitar 3000 SM, sementara pulley ditemukan oleh Archimedes, yang juga merupakan ilmuwan Yunani.

Kombinasi winch dan pulley merupakan penemuan ikonik pada masa itu, yang digunakan pada pembangunan Kuil Parthenon, sebuah bangunan yang juga tidak kalah ikonik.

Di tangan Bangsa Romawi yang mengadopsi crane dari Bangsa Yunani, crane berkembang semakin besar dan efisien. Bangsa Romawi membuat berbagai varian crane. Desain crane paling sederhana, yang dinamakan trispastos, dioperasikan oleh seorang operator dan mampu mengangkat beban sekitar 150 kg. Varian crane yang lain yang dinamakan polyspastos dapat mengangkat beban sampai dengan 3000 kg, yang dioperasikan oleh 4 orang. Jika winch-nya digantikan dengan treadwheel, crane ini bisa mengangkat beban sampai dengan 6000 kg hanya dengan dua orang.

BACA JUGA  Bertenaga Uap, Inilah Cikal Bakal Hydraulic Excavator Modern

Pada Abad Pertengahan (abad 4 – 15), treadwheel crane mencapai puncak kejayaannya, terutama dikawasan Eropa Barat. Treadwheel sudah digunakan pada zaman Romawi, namun penggunaannya kurang populer sampai dengan Kejatuhan Roma pada akhir abad ke-3 Masehi. Pada Abad Pertengahan, treadwheel crane banyak digunakan di pelabuhan, pertambangan dan pembangunan gedung-gedung di seantero Eropa. Salah satu bangunan ikonik yang dibangun menggunakan crane ini adalah Basilika Santo Petrus di kota Roma.

Revolusi Industri yang terjadi di Eropa dan Amerika menjadi pendorong perkembangan crane. Tuntutan produktivitas yang tinggi membuat orang berpikir untuk mendesain crane yang lebih besar,lebih kuat, dan ekonomis. Tidak hanya untuk pekerjaan konstruksi, crane semakin banyak digunakan di pelabuhan-pelabuhan untuk mempercepat proses bongkar muat barang. Pada era ini juga terjadi penemuan penting pada teknologi crane, yaitu hidraulik crane bertenaga air, yang diciptakan oleh William Amstrong pada tahun 1838.

Pada era modern, crane mencapai puncaknya seperti yang terlihat saat ini. Salah satu penemuan penting crane adalah penggunaan engine diesel sebagai sumber tenaganya. Dengan dikombinasikan dengan sistem hidraulik berbasis oli dan sistem elektrik, crane-crane modern semakin berkembang jenis dan ukurannya, seperti mobile crane, truck crane, rough terrain crane, tower crane, RTG, dll.

(LH)

Tinggalkan Balasan